Tampilkan postingan dengan label Puisi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Terbaik

Lintas Harian - Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Terbaik | Puisi Penuh Makna | Puisi Indah tentang Kehidupan, tentu kalian semua tahu bahwa Tokoh Chairil Anwar sangatlah berjasa sekali, berkat karya-karya puisi beliau kita dapat mengenal bagaimana indahnya karya sastra. beliau mengajarkan kita dalam membuat Puisi yang sangat mendalam sekali maknanya. terutama dalam hal Kehidupan, Motivasi, Pengorbanan, serta Curahan Hati.

Chairil Anwar dikenal sebagai pribadi yang baik. tidak menduga bahwa sosok Chairil anwar terkenal hanya dengan goresan-goresan tinta dikertas. bahkan karya-karya Puisi Chairil Anwar sangat melegenda untuk saat ini. dan ini masih dipakai dalam Materi Pelajaran Bahasa Indonesia seputar Karya Sastra.

Nah, buat anda yang sedang mencari-cari Hasil Karya Puisi Chairil Anwar berikut akan saya berikan Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Terbaik :

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Terbaik


Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Maret 1943

Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

27 april 1943

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

1944

Lagu Siul

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja

25 November 1945

Catetan Th. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!

1946

Malam di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
– ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

1947

Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Demikian Informasi terbaru seputar  Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Terbaik, semoga ini dapat bermanfaat buat anda sekalian.
More aboutKumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap Terbaik http://img104.imageshack.us/img104/88/aq5si8.jpg
 VIDEO HOT IN HOTEL ONLY 17 YEARS UP

Puisi Untuk Guru | Puisi Buat Guru Tersayang

Lintas Harian - Puisi Untuk Guru | Puisi Buat Guru Tersayang, kambali lagi dengan saya Avelin. akan memberikan suatu informasi terbaru seputar Kumpulan Puisi-puisi buat Guru Tercinta, kenapa saya berikan kepada seorang Guru ? yah karena bagi saya Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, dari kita SD, SMP, SMA telah membimbing dan memberikan pendidikan serta norma-norma kepada kita,

Puisi Untuk Guru | Puisi Buat Guru Tersayang


Guru saya anggap sebagai Orang Tua di sekolah, berkat beliau kita jadi seperti ini. oleh karena itu saya akan memberikan suatu hadiah spesial untuk Guru kesayangan saya yaitu Guru Matematika, berikut puisinya :

Diwajahnya ada bintik-bintik hitam
Jerawat memang,
Tapi bukan buatan
Alis matanya rapi bukan diarsir
Bola matanya kongruen dan ekuivalen

Guru matematikaku
Tiap hari bermain angka-angka
Tapi tidak sedang menghitung gaji
Karena gajinya cukup dieja dengan lima jari
Dihubungkannya garis,
Kadang vertikal, sekali waktu horizontal
Tapi bukan sedang membuat sketsa rumah
Karena baginya rumah tinggal menempati
Mau tipe 21, tipe 36, atau yang RSS
Rumah sangat sempit atau rumah sedikit semen

Guru matematikaku
Dahinya terlihat jelas, garis-garis sejajar sumbu x
Suaranya lantang, lugas, tegas bilangan prima
Senyumnya lepas bilangan tak terhingga

Guru matematikaku
Giginya putih bilangan asli
Dadanya bidang segitiga sama kaki
Badannya tegak vertikal

Guru matematikaku
Gajinya berbanding terbalik dengan jasanya
Jasanya berbanding senilai dengan harapan-harapannya
Ucapan dan pikirannya selalu positif
Hasilnya selalu berharga mutlak
Dikuadratkan
Menteri-menteri
ABRI-ABRI
Pegawai negeri-Pegawai negeri
Kuli-kuli
Dan masih banyak lagi
Masih banyak lagi

Guru matematikaku
Bila berjalan ditundukkan kepalanya 120 derajat
Langkahnya sedikit diseret agak loyo
Maklum terlalu banyak membawa rumus
Tak senang melihat pengangguran
Diakhir pertemuan ia selalu berkata PR
Bila sedang marah ia hanya berkata
"coba hitung, sejuta pangkat seribu"


Demikianlah artikel terbaru seputar "Puisi Untuk Guru | Puisi Buat Guru Tersayang", semoga ini bermanfaat untuk anda semua.

Source : http://www.mathzone.web.id/2009/08/puisi-matematika-guru-matematikaku.html
More aboutPuisi Untuk Guru | Puisi Buat Guru Tersayang http://img104.imageshack.us/img104/88/aq5si8.jpg
 VIDEO HOT IN HOTEL ONLY 17 YEARS UP

Arsip Blog